Macam Gaya Mempengaruhi Orang Lain Untuk Mencapai Tujuan

Macam Gaya Mempengaruhi Orang Lain Untuk Mencapai Tujuan
Dalam mencapai suatu tujuan baik pribadi maupun kelompok, dibutuhkan kemampuan untuk bisa mempengaruhi orang lain.

Posting kali ini berbagi tentang macam gaya dalam mempengaruhi orang yang dapat kita temui sehari-hari.

Selain dapat mengasah kemampuan kita untuk mengenali ‘gaya-gaya mempengaruhi’ dan menerapkan serta memanfaatkannya untuk pengaruh yang begitu penting, keenam gaya ini juga merupakan kunci kita untuk keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Baca juga: 23 Cara Membuat Anda Disukai Oleh Banyak Orang


Gaya Pragmatis (Memaksa)

Pemaksa dapat kita bandingkan layaknya kebanyakan bos atau guru. Gaya mempengaruhi ini memiliki ciri yaitu satu orang dengan otoritas yang jelas dan orang lain lebih lemah.

Seseorang dengan otoritas yang jelas, bebas meminta apa saja dan berharap selalu memperoleh yang ia inginkan karena posisi orang lain dikuasai oleh otoritas di atasnya, dan terkadang diiringi pula oleh rasa takut untuk menentangnya.

Pemaksa bersikap pragmatis, yang terpenting adalah hasil, bukan proses. Mereka menggunakan “hukuman dan ganjaran” untuk melancarkan gagasannya agar terlaksana. ‘Pemaksa’ senantiasa mencari siapa yang pantas mendapat pujian dan siapa yang patut disalahkan.

Untuk itu mereka memberi hadiah atau hukuman, baik secara psikologi maupun material. Orang yang menggunakan ‘gaya pengaruh’ seperti ini menganggap bahwa mempengaruhi sama manjurnya dengan pemberian hukuman dan penghargaan. Di sinilah letak kelemahannya.

Ketika kemampuannya untuk memberikan penghargaan dan hukuman sudah tidak ada lagi, maka ia pun akan lenyap menguap seperti embun pagi. Oleh sebab itu, gaya ini kurang tepat apabila kita menginginkan sebuah komitmen atau perubahan perilaku jangka panjang dari seseorang.


Gaya Katalisator (Perbuatan Baik)

Orang yang menggunakan gaya katalisator ini cenderung mudah dan cepat menciptakan daya tarik dengan orang lain karena mereka pandai memahami dan menaruh simpati pada orang lain.

Penerapan gaya ini didasarkan pada rasa saling percaya dan pemahaman bahwa kita hidup selaras dengan orang lain. Sikap yang harus dikembangkan yaitu saling percaya, mempertahankan loyalitas, serta mendukung gagasan, perasaan atau rencana orang lain.

Orang dengan gaya katalisator biasanya mengesampingkan gagasannya sendiri dan lebih memusatkan perhatian pada ide orang lain. Mereka mempengaruhi dengan cara ‘menarik’ orang lain secara halus ketimbang ‘mendorong’ nya untuk melaksanakan perintah.

Disamping pendekatan ini sangat berarti bagi komitmen besar jangka panjang, juga dapat membuat pendekatan kita tidak disadari oleh orang lain yang terkena pengaruh kita. Gaya ini dapat mengembangkan orang sebaik-baiknya dan meningkatkan upaya tim setinggi-tingginya.

Mereka yang menerapkan gaya ini jarang menganggap dirinya sebagai orang yang sangat berpengaruh. Akan tetapi, perannya sebagai katalisator seringkali memberikan lebih banyak pengaruh dari yang dilihat orang.


Gaya Strategis (Menjual)

Orang dengan gaya ini biasanya adalah pembicara yang terampil, namun juga pandai mendengarkan. Mereka melakukan seni mempengaruhi dengan memperhatikan nada dan gaya orang lain, mengajukan pertanyaan penjajakan dan menilai prospek dalam mengukur kemungkinan penolakan.

Setelah hal tersebut dilakukan, mereka kemudian mencari konsesi apapun untuk mendapatkan persetujuan.

Gaya strategis merupakan perpaduan macam-macam unsur ‘gaya mempengaruhi’. Dalam interaksinya mengukur suatu perkembangan, mereka mencari dan menterjemahkan isyarat verbal maupun non verbal.

Gaya ini sangat efektif bila dipakai dalam komunitas yang anggotanya memiliki keragaman pendapat.

Akan tetapi, gaya ini menjadi tidak efektif jika komunikasi hanya dilakukan melalui telepon yang tidak memberi tanda-tanda non verbal karena gaya ini memang membutuhkan interaksi langsung antar personal.


Gaya Idealis (Mengubah)

Orang dengan gaya ini memiliki kemampuan dalam menyampaikan visi umum dan merangkai beragam ide dengan tegas. Ia juga mampu menghidupkan dan menyalurkan semangat orang untuk mencapai tujuan besar.

Pengaruh gaya ini sangat ampuh apabila kita dalam situasi:
- Kita dipandang sebagai panutan dan mudah dikenal orang.
- Orang lain tidak yakin tentang bagaimana cara yang sebaiknya dilakukan dan meminta bantuan.
- Perlunya kita mengaktifkan nilai-nilai bersama.
- Perlunya kita mengembangkan gairah dan tenaga yang besar untuk aksi terpilih.
- Tujuan bersama dari suatu kelompok harus disusun untuk mengatasi ancaman atau rintangan besar.

Jika kondisi-kondisi tersebut tidak ada, maka gaya menjadi tidak berguna karena gaya ini berdasarkan identifikasi dan kepercayaan pada orang lain.


Gaya Analis (Menguraikan)

Seorang pengacara termasuk golongan ini. Gaya yang mengandalkan logika dan fakta dalam menguraikan suatu masalah. Dalam mengutarakan ide-idenya, selalu disertai dengan bukti dan argumen yang masuk akal serta pendekatan analitis.

Hanya saja gaya ini memiliki keterbatasan meski seringkali sangat efektif dalam memberikan pengaruh. Betapapun hebatnya ide kita, tidak mudah mengubah kondisi emosional seseorang hanya dengan logika dan penalaran saja.

Gaya ini hanya manjur dalam situasi ketika kita berhadapan dengan orang yang mempunyai gaya pemikiran sama seperti kita, mengandalkan alasan dan memutuskan sesuatu dengan evaluasi bukti yang sistematis.


Gaya Preservasionis (Mematikan Ide)

Gaya ini cenderung memotong bahkan mematikan gagasan orang lain. Layaknya kaum birokrat, mereka lebih suka menggunakan cara yang telah ada dan mencoba mendapatkan kekuatan dan pengaruh dengan berpegang teguh pada status quo.

Gaya ini dapat diterapkan untuk usul yang berlawanan dengan kita atau kita nilai tidak realistis. Gaya ini dapat dikatakan bersifat reaktif. Sangat efektif jika orang lain menganggap kita sebagai seorang ahli dan berpengalaman atau jika orang tersebut mengandalkan kita sebagai panutan.

Namun, gaya ini dapat mematikan kreativitas dan membelokkan gagasan yang pada awalnya sangat menjanjikan.


Itulah keenam ‘gaya mempengaruhi’ yang dapat diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu untuk melanggengkan tujuan kita. Dalam mempengaruhi orang lain, poin pentingnya adalah Perhatian dan Keluwesan.

Perhatian yang dimaksud di sini adalah kecakapan kita untuk memahami seseorang atau situasi, peka terhadap komunikasi verbal dan non-verbal serta dapat menangkap tanda-tanda yang tersembunyi dalam kepribadian seseorang.

Sedangkan keluwesan berarti kemampuan kita untuk membenahi tingkah laku, bahasa dan pendekatan yang didasarkan pada pengamatan cermat terhadap orang dan lingkungan.


Sumber/gambar:
http://gg-16.blogspot.com/2012/08/7-rahasia-mempengaruhi-orang-lain.html
http://widyanugraha.wordpress.com/2012/05/16/cara-sukses-mempengaruhi-orang-lain/


Related Posts

Macam Gaya Mempengaruhi Orang Lain Untuk Mencapai Tujuan
4/ 5
Oleh