Memaknai dan Mengisi Kehidupan

Memaknai dan Mengisi Kehidupan
Setiap detik dalam hidup kita adalah peluang untuk bisa belajar.

Kehidupan yang kita jalani layaknya sebuah Universitas Multidimensional dimana kita bisa belajar segala macam ilmu tentang hidup.

Salah satunya yang paling sederhana namun bisa menjadi luar biasa ketika kita dapat memaknainya ialah bagaimana “Belajar Mensyukuri Hidup”.

Namun sayang, banyak di antara kita yang justru terlalu sibuk dengan hal-hal di luar diri yang menguras energi serta segala daya hidup dalam diri.

Simak juga: Motivasi Dari Karakteristik Durian

Kita berpacu dalam mencari kekayaan, kekuasaan, popularitas, jabatan dan kenikmatan dunia lainnya yang membuat kita melupakan apa sebenarnya yang kita cari dalam memaknai kehidupan ini.

Dengan kata lain, kita seolah hanyut dalam kebimbangan hidup yang pada akhirnya membuat kita kehilangan arah hidup.

Pertanyaannya mudah, “Apa arti kehidupan buat saya pribadi?” apakah kita dapat menjawabnya dengan serta merta? Nah, bagaimana mungkin bisa kita memahami hal-hal yang berhubungan dengan orang lain apabila kita sendiri tidak tahu apa tujuan dan makna kehidupan bagi diri kita?

Memahami, mengapa manusia harus hidup berbagi. Memahami bahwa semua orang butuh uang, tapi uang bukanlah segalanya.

Memang perlu waktu dan tidak akan dapat terwujud secara spontanitas untuk melakukan proses pembelajaran diri yang akan menjadikan kita manusia yang semakin memahami karunia agung Sang Maha Pencipta di setiap sisi kehidupan.

Agar kita dapat memanfaatkannya tidak hanya untuk meningkatkan taraf kesadaran diri kita, tetapi juga tidak kalah penting sebagai pembuka hati kita untuk peduli akan sesama tanpa melihat suku, bangsa dan agama.

Hal ini tentulah tidak semudah mengucapkannya. Butuh pemahaman yang mantap dan tekad kuat untuk meraihnya. Mungkin saja harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan sebelum mampu menembus tirai misteri kehidupan itu sendiri.

Harimau mati meninggalkan belang dan gajah mati meninggalkan gading. Sedangkan manusia mati meninggalkan nama. Setiap orang bisa menjadi manusia yang dikenang, tidak hanya ketika masih hidup, tetapi juga ketika sudah tiada lagi di dunia ini.

Tidak harus menjadi orang besar seperti Bung Karno atau Jend. Sudirman. Cukup dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, tanpa batasan suku, budaya, kepercayaan ataupun usia.

Kita punya kebebasan untuk memilih, jadi manusia yang dikenang karena bermanfaat bagi sesama, atau menjadi yang terlupakan karena kehadirannya tidak berarti apapun bagi orang lain.

Peta jalan hidup ini ada di tangan kita masing-masing, terlepas arah mana yang akan kita ambil. Mari kita pilih jalan hidup yang benar agar di akhir tidak hanya menjadi sesal seumur hidup.


Sumber/gambar: 
Menggapai Kesadaran Jiwa oleh Tjiptadinata Effendi pada kompasiana.com
http://fajarsanjaya.wordpress.com/tag/tentang-kehidupan/


Related Posts

Memaknai dan Mengisi Kehidupan
4/ 5
Oleh