Pengertian Teori Moneter dan Macam Standar Moneter

Teori Moneter merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari Teori Ekonomi. Teori moneter memiliki hubungan yang erat dengan semua bagian maupun jurusan dalam ilmu ekonomi, termasuk dalam Teori Perilaku Produsen, Teori Perilaku Konsumen, dan Teori Keseimbangan Umum.

Pada teori moneter asumsi dasar yang dipakai terdapat dalam teori ekonomi ortodoks, pertanyaan yang sama digunakan dengan metode dan konsep analisis yang sama.

Baca juga: Alat Ukur dalam Menghitung Perekonomian Suatu Negara

Terdapat kekhususan yang dimiliki pada teori moneter pada pertanyaan tertentu dan beberapa konsep yang telah berpengaruh cukup besar pada teori moneter dibandingkan dengan cabang ilmu ekonomi lainnya.


Pengertian Teori Moneter

Teori Moneter menurut buku-buku literatur mempunyai pengertian yaitu teori yang membahas mengenai pasar uang, atau dapat pula dikatakan sebagai teori mengenai permintaan dan penawaran akan uang.

Sedangkan pengertian secara luas, teori moneter ialah analisa mengenai semua faktor yang berpengaruh terhadap permintaan akan uang (demand for money) dan semua faktor yang mempengaruhi penawaran akan uang (supply of money). Harga nantinya akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran terhadap uang itu sendiri.

Teori-teori moneter selalu memberikan perhatian pada dua macam konsep tentang “harga uang”, dan terjadi sejak dua abad yang lalu hingga sekarang. Dua konsep tersebut yaitu tingkat bunga dan tingkat harga umum.

Teori-teori moneter tertentu (pendukung teori moneter Keynes) penekanannya lebih kepada tingkat bunga sebagai harga penentu di pasar uang.

Sedangkan pada teori moneter yang berdasar pada teori kuantitas menyebutkan bahwa pasar uang tidak menentukan tingkat bunga, melainkan tingkat harga umum.

Perubahan dalam kondisi pasar uang yang dicerminkan oleh perubahan tingkat bunga dan tingkat harga ini memang hal yang lumrah terjadi, karena dalam masyarakat modern, uang telah secara luas dipergunakan untuk:
1. Alat tukar-menukar (means of exchange)
2. Pengukur nilai (measure of value)
3. Standar ukuran pembayaran masa depan (standard for deferred payments)
4. Cara untuk menyimpan kekayaan atau daya beli (store of wealth)


Standard Moneter

Standar moneter merupakan sistem moneter yang didasarkan atas standar nilai uang, termasuk peraturan tentang ciri dan sifat uang, pengaturan terhadap jumlah uang yang beredar (logam maupun kertas), ekspor-impor logam-logam mulia, serta fasilitas bank yang berhubungan dengan ekspansi demand deposit.

Macam standar moneter terdiri dari standar barang dan standar kepercayaan, untuk lebih jelasnya mengenai dua standar tersebut, berikut penjelasannya:

1. Standar Barang (commodity standard)

Standar barang dapat diartikan sebagai sistem moneter di mana nilai atau daya beli uang dijamin sama besarnya dengan seberat barang tertentu, seperti emas, dan perak. Besarnya nilai tersebut ditentukan oleh pemerintah. Klasifikasi standar barang tersebut ialah sebagai berikut:

Standar Emas (the gold standard)

Standar emas adalah suatu sistem moneter di mana masyarakat dalam suatu bangsa menyatakan kesatuan moneternya dengan emas, dengan harga yang pasti bebas menjual-belikan emas dan mengizinkan orang-orang untuk mengekspor maupun mengimpor emas tanpa batas.

Standar Perak (the silver standard)

Standar perak adalah suatu sistem moneter di mana masyarakat dalam suatu bangsa menyatakan kesatuan moneternya dengan perak.

Standar Kembar (the gold and silver standard)

Standar kembar adalah suatu sistem moneter di mana masyarakat dalam suatu bangsa menyatakan kesatuan moneternya dengan emas dan perak.


2. Standar Kepercayaan (Fiat Standard)

Standar kepercayaan didefinisikan sebagai sistem moneter di mana nilai atau daya beli uang tidak dijamin dengan seberat barang tertentu (logam).

Masyarakat mau menerima uang tersebut hanya atas dasar kepercayaan, dan digunakan sebagai alat pembayaran yang sah serta alat penukar, dan sebagainya.


Kebijakan Moneter pada Negara Berkembang

Biasanya, kebijakan moneter dikaitkan dengan pengawasan terhadap jumlah uang yang beredar (JUB), sistem kredit, stabilisasi harga dan pertumbuhan ekonomi.

Hanya saja pertimbangan lebih banyak kepada stabilitas harga sebagai tujuan paling utama pada Negara-negara berkembang dikarenakan inflasi berat kerap terjadi bila dibandingkan dengan negara-negara maju.

Kebijakan moneter di Negara sedang berkembang seperti di Indonesia dirasa lebih efektif ketimbang kebijakan fiskal guna mengatasi inflasi.

Sebenarnya, untuk menghindari inflasi, tingkat pertumbuhan JUB di Negara berkembang harus bisa seimbang dengan pertumbuhan ekonominya.

Dengan begitu bisa diharapkan nantinya kebijakan moneter akan memperlancar jalannya pertumbuhan ekonomi dalam pencapaian tingkat yang lebih tinggi.

Kontribusi dari kebijakan moneter dalam memperlancar pencapaian tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi secara tak langsung dapat membantu pencapaian full employment.

Kebijakan moneter moneter dapat ditarik untuk meredam inflasi, namun tidak dapat didorong (tekan) untuk mengatasi resesi.

Oleh sebab itu, Keynes menawarkan penjelasan secara simultan tentang arti penting kebijaksanaan moneter yang diharapkan mampu meredam depresi.

Kebijaksanaan moneter merupakan bagian dari kebijaksanaan ekonomi makro. Oleh sebab itu, kebijakan moneter haruslah bertujuan untuk mendukung terciptanya sasaran ekonomi makro yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, keseimbangan neraca pembayaran, dan pemerataan pembangunan.

Dengan kata lain, melalui kebijakan moneter, maka haruslah timbul beberapa manfaat seperti:
- Kelancaran jalannya pertumbuhan ekonomi
- Membantu dalam pencapaian full employment
- Peningkatan JUB sehingga angka pengangguran dapat ditekan
- Tercapainya tingkat keseimbangan (equilibrium dalam Negara Pembayaran Internasional (NPI)
- Terjaganya stabilitas nilai tukar di sebuah Negara
- Tercapainya stabilitas harga
- Pembangunan yang lebih merata

*) Sumber: Google.co.id


Related Posts

Pengertian Teori Moneter dan Macam Standar Moneter
4/ 5
Oleh