Dua Alasan Yang Membuat Ku Tertarik Padanya

Bergegas ku mandi dan gosok gigi, tak lupa dandan setampan mungkin. Nggak sabar deh, pengen lihat seperti apa sih wanita yang akan dikenalkan ibu. Rasa senang bercampur penasaran, dalam benakku tersirat pula rasa syukur karna akhirnya masa jomblo ku akan segera usai. Hahaa... Senyum mengembang di bibir dan tawa terlepas dalam hati.

Oya, sebelumnya aku mungkin lupa bilang, kalau minggu ini aku dan ibu sudah berencana untuk berkunjung ke rumah temannya. Namanya pak Mol, Ia pernah mengatakan punya keponakan perempuan dan ingin dikenalkan dengan ku. Maklumlah keponakannya itu kan seorang wanita dewasa dan aku pun juga lelaki dewasa, sudah sewajarnya kalau kita saling berkenalan. Siapa tahu ada jalan ketemu jodoh. Hehe. (Ngarep).

Sebelum berangkat, Ibu menyiapkan seekor ayam jago ketawa yang katanya mau dibawa dan ditukar pinjam sama ayam jago arab milik Pak Mol.

"Rencana ibu mau tukar pinjam bibit ayam sama pak Mol, ibu mau ternak ayam arab. Lumayan, sekali nelor katanya bisa sampai 40 butir lhoo..." Kata ibu penuh optimis dengan peternakan ayam arab impiannya.

Ya, bagus deh. Sekalian bisa dijadikan modus yang pas juga toh buat kita main kesana, pikirku. Di perjalanan dengan menggunakan sepeda motor, ibu membonceng sambil memangku ayam tersebut. Tentu saja ayam itu harus dipangku selama perjalanan, karena ayam memang tidak bisa duduk sendiri.

Sampai di rumah pak Mol, kami ngobrol-ngobrol sebentar dan saya lebih banyak diam karena tak tahu harus ngomong apa. Kemudian kami melihat-lihat ke kandang ayam arab miliknya. Cukup terkesan ku melihat banyak jumlah ayam arab di tempat itu, sambil merekam dalam memori, bagaimana desain kandang ayam yang representatif untuk kenyamanan ayam dalam menghasilkan telur. Tapi, bukan itu tujuan ku datang ke situ. Aku masih penasaran bagaimana rupa Mba Ana.

Seperti yang sebelumnya ibu ceritakan, kalau Mba Ana itu seorang guru SD, sudah PNS dan orangnya baik pula. Ada dua hal yang membuat ku tertarik untuk berkenalan dengannya, pertama dia PNS, dan yang kedua orangnya baik. Memang usianya lebih tua sekitar dua atau tiga tahun dari ku, tapi that is not big problem. Di pikiranku saat ini hanya ada bagaimana aku bisa membangun masa depanku, dan menyenangkan hati ibu.

Walau materi bukanlah jaminan kita untuk hidup bahagia, tapi tanpa materi justru kita punya resiko tinggi untuk hidup sengsara. Usia tak menjadi masalah, paras cantik pun bukan hal yang bisa kita nikmati selamanya karena setiap orang pasti akan menua.

Oke, itu tadi sedikit gambaran yang ada dalam pemikiranku saat ini. Lain kali akan kita kupas bagaimana isi otak ku lebih dalam. Tapi sekarang, aku harus tetap fokus. Jaga sikap, kata-kata dan tingkah laku agar berkesan di mata mba Ana. Karena Ia sudah bergabung di tengah-tengah kita. Penampilannya sedikit lusuh karena baru saja selesai mencuci baju, tampaknya Ia pun tak menyangka kalau akan kedatangan seorang pangeran tampan dari gunung Hua Kuo (Sun Gokong). Aku juga yakin kalau sore ini dia juga belum mandi, tapi tak mengapa karena ternyata ia punya senyum yang lumayan manis.

Sejak tadi aku hanya bisa terdiam. Bukan karena terpana oleh mba Ana, tapi karena aku memang tak bisa menangkap arah pembicaraan mereka. Ibuku, pak Mol dan istrinya serta mba Ana, mereka asik saja mengobrol tanpa memperhatikan aku yang terbengong dan ingin sekali berteriak "Diam kalian semua, gantian aku yang bicara...!!!" Tapi pikirku, jika mereka semua terdiam pun aku tetap nggak tahu mau ngomong apa. Jadi, sebaiknya aku menjadi pendengar setia sambil menikmati teh hangat serta makanan ringan yang tersaji.

Pandanganku kembali tertuju pada mba Ana, dia masih tetap tersenyum dan ku merasa ada yang salah dalam senyumnya. Ternyata dia sudah cukup lama berbicara sambil terus tersenyum, dia bahkan tak sadar kalau sudah hampir sejam dia belum menutup giginya. Ada kekhawatiran dalam hatiku, senyumnya tak boleh dibiarkan terus tanpa kontrol, aku takut mulutnya kram atau giginya mengering, ingin rasanya aku memegang mulutnya dan menutup senyum di bibirnya.

Akhirnya, sudah menjelang magrib. Tak terasa ternyata matahari sudah bersembunyi di pantai barat pulau jawa. Kami berpamitan untuk pulang, aku berpamitan dengan mba Ana, tak lupa pula meminta no hp nya. Dalam hatiku berharap, semoga setelah perkenalan ini akan ada kesempatan lain untuk kita melanjutkan silaturahmi. Aku menyukainya walau agak sedikit aneh pada kesan pertama. Tapi sekali lagi, Aku berharap akan ada kelanjutan dari kisah singkat ini. Tentu saja aku tertarik padanya, karena pertama, dia PNS dan yang kedua, dia juga orangnya baik.


Juli 2013


Related Posts

Dua Alasan Yang Membuat Ku Tertarik Padanya
4/ 5
Oleh