Penyebab Penghasilan Tidak Pernah Cukup dan Cara Mengatasinya

Penyebab Penghasilan Tidak Pernah Cukup dan Cara Mengatasinya
Mungkin Anda salah seorang yang merasa kalau selama ini gaji yang diperoleh dari kerja keras hanyalah “numpang lewat” saja.

Anehnya, perasaan seperti ini muncul bahkan ketika baru saja Anda beberapa hari yang lalu menerima gaji bulanan.

Seringkali kita mengeluh karena merasa penghasilan terlalu kecil sehingga susah sekali untuk bisa membeli suatu barang ini dan itu.

Biasanya, kenaikan harga akan menjadi sasaran kambing hitam untuk kita tuding sebagai biang keladi dari tidak mencukupinya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Simak juga: Perencanaan Keuangan Keluarga Setelah Tak Lagi Jadi Karyawan

Memang ada benarnya, inflasi memiliki pengaruh terhadap kondisi keuangan kita. Namun kenaikan harga hanyalah salah satu faktor saja, bukan satu-satunya.

Sebab, ada pula orang yang bahkan sudah mengalami kenaikan gaji berkali-kali, namun tetap saja merasa kalau penghasilannya tak pernah cukup.

Terkadang, kita sendiri pernah mengalaminya, padahal baru saja menarik uang ratusan ribu rupiah dari mesin ATM dan menyimpannya di dompet.

Namun tak butuh waktu lama, tahu-tahu uang di dompet sudah hampir habis. Dan ketika menyadari hal tersebut, Anda mungkin sudah lupa digunakan untuk apa saja uang itu sehingga tahu-tahu sudah tinggal sedikit.

Penghasilan yang kita dapatkan seakan tidak dapat mengcover besarnya pengeluaran. Padahal, kita merasa tidak pernah berlebihan dalam belanja, atau dengan sengaja berfoya-foya menghamburkan uang.

Biasanya, hal yang sering terjadi adalah kita terdorong untuk berbelanja lebih banyak ketika penghasilan kita mengalami kenaikan. Sehingga berapapun kenaikan penghasilan seakan kita tidak pernah merasa cukup.


Beberapa Penyebab Penghasilan Tidak Pernah Cukup

Ada beberapa faktor atau penyebab umum penghasilan kita tidak pernah terasa cukup. Dengan mengenali penyebabnya, maka upaya dalam mengatasinya pun akan lebih mudah untuk ditemukan.


1. Kenaikan Harga Atau Inflasi

Secara alamiah, inflasi atau harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Dampak yang jelas terasa adalah dengan jumlah uang yang sama, kita tidak lagi dapat memperoleh atau membeli barang dan jasa sebanyak tahun sebelumnya, karena ada penurunan nilai uang terhadap barang dan jasa tersebut.

Masalahnya, apabila penghasilan kita tidak bertambah, maka untuk bisa mendapatkan barang yang sama dengan jumlah yang sama uang kita tidak lagi mencukupi. Sehingga tentu akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan hidup kita.


2. Menganut Gaya Hidup Yang Di Luar Kemampuan

Gaya hidup yang di luar kemampuan finansial kita cenderung menjadi sumber dari hampir semua masalah keuangan dalam rumah tangga.

Sifat boros akan membuat kita membelanjakan uang di luar anggaran dan mengakibatkan defisit pada anggaran keuangan keluarga.

Di samping itu, kita juga perlu mewaspadai sejumlah pos pengeluaran yang jumlahnya melampaui kebutuhan, seperti tagihan telepon yang membengkak, busana dan aksesoris barang-barang elektronik yang tidak jelas esensinya, serta hadiah maupun sumbangan-sumbangan lingkungan.

Sebenarnya Anda boleh percaya atau tidak, banyak biaya dari pos pengeluaran tersebut bukanlah hal yang wajib.

Seperti membicarakan hal-hal yang kurang penting di telepon sehingga membuat tagihannya membengkak, atau setiap sebulan sekali membeli baju baru yang sebenarnya masih banyak baju-baju lama yang bagus dan bisa dipakai kembali.


3. Terjebak Hutang Yang Bunga-Berbunga

Tagihan kartu kredit yang disetorkan pada waktu minimal saja sudah membuat tagihan Anda membengkak, apalagi kalau Anda sampai terlambat membayarnya, tentu akan ada pula biaya keterlambatan.

Terkadang kita juga di nina bobokan oleh iming-iming barang kreditan dengan angsuran ringan. Tanpa kita sadari, banyaknya barang kreditan yang kita ambil membuat pengeluaran bulanan Anda jadi kian bengkak.

Sama halnya dengan benda-benda yang menggunakan sistem angsuran dalam hutang jangka panjang, seperti kredit sepeda motor, mobil atau rumah.

Seringkali orang memaksa untuk mengambil kredit dengan jangka waktu yang lebih pendek namun angsuran besar, dengan tujuan agar hutang bisa cepat lunas.

Akibatnya, pengeluaran untuk semua cicilan hutang bulanan kita jadi terlalu besar, dan mengakibatkan kebutuhan rumah tangga lainnya tidak lagi tercukupi oleh penghasilan yang kita dapatkan tiab bulannya.


4. Adanya Berbagai Pengeluaran Yang Di Luar Rencana

Pengeluaran yang di luar rencana ini misalnya sumbangan teman hajatan, membeli hadiah untuk seseorang yang ulang tahun, atau ketika ada saudara dekat yang mohon dipinjami uang.

Walaupun frekuensinya hanya sesekali, namun hal ini juga dapat membuat pengeluaran untuk kebutuhan penting lainnya jadi tak ter-cover.



Cara Mengatasi Penyebab Masalah Keuangan Di Atas

Dari keempat penyebab umum di atas, maka sekarang saatnya untuk memulai perubahan yang lebih baik pada perencanaan keuangan keluarga Anda. Ada cara-cara yang cukup efektif dalam mengatasi masalah keuangan di atas.


1. Buat Anggaran Belanja Bulanan

Berapapun jumlah penghasilan kita baik besar ataupun kecil, sangatlah penting untuk mempunyai rencana anggaran belanja bulanan.

Sebab, dengan adanya anggaran belanja bulanan, pengeluaran terhadap keuangan kita akan lebih terkontrol.

Kuncinya yang harus dipegang adalah bagaimana membuat anggaran pengeluaran bisa lebih kecil dibandingkan penghasilan. Serta biasakan untuk berbelanja hanya sebesar jumlah yang telah dianggarkan sebelumnya.

Patuh terhadap anggaran yang telah kita buat sendiri, agar kita bisa tetap berbelanja namun juga terhindar dari kondisi defisit.

Dengan dibuatnya anggaran keuangan pribadi, Anda juga dapat membuat pengelompokkan mana saja pos pengeluaran yang bersifat wajib, dan mana saja yang tidak wajib atau tidak menjadi prioritas untuk dikeluarkan.

Anda tidak perlu menghilangkan sama sekali berbagai pengeluaran tidak wajib tersebut, namun karena tidak menjadi prioritas, maka Anda akan lebih leluasa untuk mengurangi jumlahnya.

Untuk itu, penting sekali untuk Anda agar dapat membedakan mana pengeluaran yang sifatnya wajib, mana yang tidak wajib, dan mana yang benar-benar kebutuhan maupun hanya sebatas keinginan saja.


2. Cicilan Hutang Bulanan Mulai Dibatasi

Dalam aturan keuangan pribadi, ada rasio yang harus Anda pegang dengan baik, yaitu total semua pengeluaran untuk cicilan hutang bulanan jangan sampai melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan Anda.

Cicilan hutang tersebut bisa berupa cicilan rumah, angsuran mobil, kredit sepeda motor, maupun cicilan barang kreditan lainnya, usahakan agar jumlah total semuanya jangan sampai melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan Anda.

Jadi, dengan menerapkan aturan di atas, maka terdapat sisa 70% dari penghasilan yang bisa Anda pakai untuk membiayai kebutuhan lainnya, maupun sebagai dana cadangan dan investasi.

Semakin kecil porsi pengeluaran untuk cicilan hutang, maka akan semakin besar penghasilan bulanan yang bisa Anda sisakan.

Sehingga Anda mempunyai dana lebih banyak untuk berinvestasi yang nantinya dapat memperbaiki kondisi keuangan Anda di masa yang akan datang.


3. Membiasakan Diri Untuk Berinvestasi

Adanya inflasi memang di luar kemauan kita, terjadi secara alami dan tak banyak yang bisa kita lakukan terhadapnya.

Satu-satunya jalan untuk mengalahkan inflasi adalah dengan membuat harta yang kita miliki dapat berkembang biak dengan berinvestasi.

Pilihlah produk investasi yang tentunya memberikan return yang lebih tinggi dari asumsi tingkat inflasi.

Oleh sebab itu, mulai dari sekarang Anda harus memiliki anggaran untuk berinvestasi supaya penghasilan kita juga bisa bertambah dari keuntungan hasil investasi yang kita lakukan.

Namun, untuk berinvestasi memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi, mulai sekarang Anda harus mulai menyisihkan 10% dari penghasilan untuk dikumpulkan menjadi dana yang siap untuk dialokasikan ke produk investasi.


4. Jangan Lupa Untuk Menyiapkan Dana Cadangan

Dalam mengatasi berbagai pengeluaran tidak terduga atau untuk kepentingan darurat, sebaiknya kita memang tidak mengambil dari gaji bulanan, karena gaji yang sifatnya rutin tersebut sebenarnya diperuntukkan sebagai pengeluaran yang juga bersifat rutin.

Untuk itu, Anda memerlukan dana cadangan untuk mengatasi berbagai pengeluaran darurat tersebut. Jadi, Anda harus memiliki pos tersendiri yang bersifat wajib untuk Anda alokasikan sebagai dana cadangan.

Namun, buatlah anggaran dana cadangan tersebut seolah-olah sebagai pengeluaran wajib yang memang harus Anda masukkan ke dalam rekening atau simpanan Anda.

Pisahkan simpanan yang memang dikhususkan untuk dana cadangan tersebut pada rekening yang berbeda.

Sehingga ketika tidak digunakan pada bulan ini, maka dana cadangan Anda tersebut tetap aman di rekening lain dan tidak mengganggu alur kas yang diperuntukkan sebagai pengeluaran rutin.

Apabila sewaktu-waktu dana cadangan tersebut terpakai, maka pemenuhan kebutuhan bulanan Anda tidak terganggu sehingga Anda tidak perlu “meminjam sana-sini” hanya untuk kebutuhan semata.

Perlu dicatat, bahwa pengajuan pinjaman yang penggunaannya diperuntukkan sebagai pemenuhan kebutuhan atau hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan usaha atau sesuatu yang produktif, maka sangatlah harus Anda hindari.


Demikianlah posting kami tentang bagaimana mengelola keuangan Anda agar tiap bulannya tidak selalu mengalami defisit. Semoga posting kali bermanfaat dan dapat meningkatkan kesejahteraan Anda di masa depan.

Sumber:
http://kemandirianfinansial.blogspot.com


Related Posts

Penyebab Penghasilan Tidak Pernah Cukup dan Cara Mengatasinya
4/ 5
Oleh

1 komentar: