Hiperrealitas Dalam Dunia Konsumerisme

Hiperrealitas Dalam Dunia Konsumerisme
Mungkin kita bisa mencoba sebuah cara yang sebenarnya sederhana namun dapat berefek besar dan positif dalam keluarga.

Cara ini menganjurkan saat kita makan bersama keluarga, maka semua wajib mematikan atau tidak meletakkan ponsel di atas meja makan.

Aturan yang sama juga bisa kita terapkan saat sedang berbincang atau menghabiskan waktu dengan keluarga di setiap akhir pekan.

Dengan cara ini, di setiap waktu berkumpul Anda dengan keluarga maka akan merasakan sebuah hubungan “antarmanusia” melalui obrolan, sentuhan, tawa, marah, dan semua ekspresi maupun emosi yang benar-benar orisinil.

Simak juga: Konsep Spiritualitas Yang Bisa Kita Petik Dari Pemikiran Google


Pengertian Hiperrealitas

Di tahun 1981, diperkenalkan oleh sosiolog Perancis, Jean Baudrillard tentang kata “hyperreality” dalam buku karangannya dengan judul “Simulacra and Simulation”.

Hyperreality atau hiperrealitas merupakan keadaan di mana kesadaran manusia tidak mampu membedakan mana yang kenyataan dan mana yang fantasi, terutama dalam tingginya teknologi dalam kehidupan.

Pengertian lain tentang hiperrealitas secara singkat adalah menurut Jean Baudrillard: “nyata tanpa kenyataan”, Umberto Eco: “palsu yang otentik”, dan Pater Sparrow: “ketidaknyataan virtual”.

Buku yang disusun oleh Braudrillard tersebut didasarkan pula atas riset yang dirinya lakukan terhadap pengunjung taman bermain di Disneyland.

Braudrillard menulis bahwa Disneyland merupakan sebuah ‘mesin’ yang membangkitkan kembali gairah fantasi kanak-kanak pada orang dewasa dan membuat mereka percaya pada apa yang terdapat di Disneyland seperti hal yang nyata.

Orang-orang dewasa yang datang ke Disneyland bertindak seperti kanak-kanak untuk memanjakan ilusi mereka tentang masa kecil.

Hiperrealitas dalam dunia konsumerisme merupakan hal yang sangat penting dalam men-sinonimkan produk atau jasa para penjual dengan status sosial konsumen.

Contohnya seperti mobil merek tertentu yang diidentikkan dengan maskulinitas, atau notebook merek tertentu yang seolah-olah membuat penggunanya tampak lebih cerdas dan ekslusif.

Sebenarnya, semua itu tidaklah berkaitan namun mampu membuat konsumen percaya terhadap “jargon” dari kampanye produk-produk tersebut.

Tanpa sadar, selama ini kita telah masuk dalam dunia hiperrealitas dan semakin terhubung lebih dalam dengan benda-benda yang mampu mensimulasikan kenyataan.

Belum lagi perkembangan dunia internet yang sekarang ini semakin pesat, orang-orang semakin dimanjakan dengan berbagai kenyataan yang sebenarnya hanyalah bersifat “semu”.


Pembunuhan Terhadap Realitas

Seperti yang ditulis oleh Baudrillard, Hiperealitas cenderung lebih menyenangkan dibandingkan realitas.

Bahkan, ironisnya hiperrealitas dianggap lebih nyata ketimbang realitas itu sendiri. Mungkin itulah yang menyebabkan orang cenderung sibuk dengan ponselnya ketika di perjalanan maupun di ruang tunggu, bahkan saat malam hari, waktu di mana seharusnya mereka bisa memanfaatkan waktu berkualitasnya bersama keluarga atau pasangan.

Kita lebih menganggap apa yang ada diinternet, media sosial, maupun pesan instan nampak lebih menarik dibandingkan berbincang dengan orang di sekitar kita atau melihat pemandangan dunia yang sebenarnya lebih indah dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita seakan telah terikat dengan hiperrealitas dan terjebak pada kesenangan di dalamnya.

Kita menjadi semakin tidak menyadari diri kita yang sebenarnya di kehidupan sehari-hari, dan lebih menyadari tentang diri kita sehari-hari di internet. Lantas, batasan teritori seperti apa yang ada di antara keduanya?

Seperti yang dikatakan oleh Guys Louis Debord, “dalam dunia postmodern ini realitas sudah mati, yang tersisa hanyalah persepsi”.

Ekonomi dan politik tidak lagi menjadi fundamental di masyarakat, namun yang ada hanyalah tinggal persepsi tentangnya.

Itu sebabnya, ada orang yang terus di-bully, dihina, bahkan dicaci-maki di internet atau media sosial. Masyarakat seakan tak peduli dengan apa yang sudah dilakukannya di kehidupan sehari-hari, melainkan lebih melihatnya sesuai persepsi orang terhadapnya di dunia maya.

Kebenaran dari persepsi itu bisa saja meragukan, tapi hiperrealitas telah mengaburkan batasan di antara yang nyata dan fantasi.

Sehingga tak ada lagi batas teritori antara realitas dan fantasi. Selain itu, hiperrealitas juga menghilangkan asal-usul (sumber) dari kebenaran suatu informasi.

Setiap individu dapat bebas bergerak menentukan persepsinya sendiri. Pemahaman dan makna baru telah lahir dari adanya hiperrealitas, sehingga kebenaran yang nyata semakin sulit untuk didapat.


Tak Ada Lagi Kepribadian Yang Orisinil

Bisa kita lihat di sekitar kita, mungkin Anda memiliki teman yang sehari-hari begitu lembut dan ramah dalam pergaulan, namun bisa berubah menjadi judes dan pengeluh di media sosial.

Atau seseorang yang nampaknya sangat pemalu dan pendiam di dunia nyata, namun berubah menjadi galak dan “bawel minta ampun” di facebook.

Jadi, sebenarnya mana sih kepribadian yang orisinil dari seseorang tersebut? Hilangnya teritori antara realitas dan fantasi membuat seseorang bisa saja memiliki kepribadian ganda, berbeda 180 derajat ketika di dunia nyata dan di media sosia.

E-personality merupakan suatu istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Elias Aboujaoude, seorang ahli kejiwaan dari Stanford University.

Ia menjelaskan tentang E-personality dalam bukunya yang berjudul “Virtually You”, istilah ini tentang perbedaan sifat manusia di dunia nyata dan dunia maya.

Sangat dimungkinkan, E-personality ini dapat mengarah pada gangguan mental yang penyebabnya adalah kondisi trauma, kekecewaan, kemarahan, obsesi, maupun kebingungan yang terpendam dan kian bertumpuk.

Semua penyebab itu kemudian ditumpahkan di internet atau media sosial, dalam bentuk kepribadian yang berbeda.

Kepribadian ini tak lagi terhubung dengan kenyataan di sekitarnya, atau kepribadian asli orang tersebut. Hal ini kemudian dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan bernama “Schizophrenia”.

Penyakit schizophrenia muncul ketika hiperrealitas dan E-personality membuat kita tidak mampu lagi bertindak rasional di “dua alam” dan kehilangan kontrol atas diri kita serta dilakukan secara berkelanjutan.

Seperti contohnya merasa diri hebat dan populer karena memiliki banyak follower maupun liker di media sosial, sehingga ke mana pun pergi maka jadi merasa selebriti dan dihormati banyak orang.

Mungkin kedengarannya lucu, tapi orang dengan model begini memang sungguh ada. Hiperrealitas tidak hanya sebuah monopoli entitas internet, melainkan juga media maistream. Bahkan, sindrom yang bisa terjadi dapat menyerang si praktisi media itu sendiri.


Hiperrealitas “Mendekatkan Yang Jauh Dan Menjauhkan Yang Dekat”

Terkadang, hiperrealitas membawa diri kita pada kondisi di mana banyak teman dimiliki pada dunia maya, namun tak memiliki sahabat di kehidupan nyata.

Kita sering berbincang dengan seseorang dari kota atau negara lain, namun justru tetangga sendiri malah tidak kita kenal.

Hiperrealitas juga membuat semakin banyak informasi yang kita miliki, namun kita semakin dijauhkan dari fakta. Atau kita makin berilmu, namun semakin impulsif dan emosional.

Makin terhubung, namun kian minim tindakan. Dalam sehari kita dapat menghabiskan waktu 2 hingga 3 jam untuk sekadar chatting, namun justru semakin jarang ngobrol bertatap muka dengan teman atau keluarga.

Lihatlah betapa tampan atau cantiknya foto kita di Facebook, kita nampak bahagia dan sukses di foto tersebut. Berfoto di berbagai tempat wisata atau restoran.

Lantas, pernahkah membandingkan wajah Anda di cermin atau mengukur tingkat kebahagiaan Anda yang sebenarnya di dunia nyata?

Semakin mudah kita menilai orang dari apa yang dihadirkannya di internet, sepertinya dia pandai, ia baik hati, atau memiliki fisik yang rupawan.

Padahal, kita tak pernah sekalipun bertatap muka dengan orang tersebut. Berbagai hal lain yang hidup di luar hiperrealitas menjadi semakin terabaikan, dan sebenarnya hal lain itulah yang disebut “kenyataan”.

Orang bisa saja tampil begitu empatik dan peduli di media sosial, namun bisa saja di saat yang sama ia menjadi sangat apatis dan permisif di kehidupan nyata.

Pergaulan kita mungkin semakin luas melalui media sosial, tapi di sisi lain kita berubah menjadi orang yang antisosial.

Dengan mudahnya mengatakan atau ikut gerakan “save ini-itu”, namun belum tentu ketika diminta untuk bertindak secara nyata kita akan bersedia melakukannya.

Pertanyaan kembali muncul dari semua tulisan di atas, SIAPAKAH KITA YANG SEBENARNYA?

Sumber:
http://www.kompasiana.com/hilmanfajrian/kita-dan-hiperealitas_5580f242e022bd6c310e7751


Related Posts

Hiperrealitas Dalam Dunia Konsumerisme
4/ 5
Oleh