Vegetarian Memiliki Jantung yang Lebih Sehat

Vegetarian Memiliki Jantung yang Lebih Sehat
Struktur bentuk, fungsi, organik, budaya, serta pola makan menjadi bukti ilmiah bahwa sayuran merupakan makanan normal manusia seperti primata pada umumnya.

Gigi taring manusia tidak berkembang secara sempurna, jadi manusia ditakdirkan untuk tidak berebut makanan dengan karnivora lainnya.

Ada berbagai alasan yang membuat manusia menjadi seorang vegetarian atau tidak mengonsumsi daging binatang, termasuk juga hewan laut.

Baca juga: 4 Minuman yang Efektif Menurunkan Berat Badan

Bisa karena agama, ingin menjaga kesehatan, atau merawat kehidupan. Tetapi, sebenarnya sejarah vegetarian berakar pada peradaban Yunani kuno dan India dengan konsep ahimsa, yang berarti tidak melakukan kekerasan kepada makhluk hidup lainnya (di masa itu mungkin menganggap kalau mahluk hidup itu hanya hewan dan manusia saja).


Awal Mula Perkembangan Vegetarianisme

Terminologi awal vegetarian muncul pada pertengahan 1800-an dari British Vegetarian Society. Kata vegetarian berakar dari bahasa latin yang merujuk pada arti sumber kehidupan.

Mereka yang hanya makan tumbuhan sebelumnya sering dikenal dengan sebutan pythagoreans, merujuk pada matematikawan asal Yunani yang bernama Pythagoras, yang merupakan penganut vegetarian.

Menurut pakar antropolog, pada masa-masa sangat awal, manusia menyantap tumbuh-tumbuhan, terjadi perubahan ketika mereka mulai mengenal api, pola makannya pun menjadi lebih bervariasi.

Sistem pencernaan manusia yang lebih mirip herbivora ketimbang karnivora mendukung pandangan tersebut.

Contohnya, manusia membutuhkan lima hari untuk dapat mencerna daging secara sempurna, sedangkan makanan nabati cukup hanya 1,5 hari saja.

Kemudian, ada juga data pendukung lainnya yang menunjukkan bahwa masyarakat yang gemar makan bahan pangan hewani lebih sering terkena penyakit kardiovaskuler dan kanker daripada kelompok masyarakat pemakan bahan pangan nabati.

Pada zaman renaisans atau sekitar abad ke-19 sampai 20, vegetarianisme makin marak dan menyebar di Eropa.

Persentase penganut vegetarian di Barat menurut data Mintel 2006 telah mencapai 0,5 – 4 % dari jumlah populasi di dunia.


Bukti Ilmiah

Saat ini, penegasan ilmiah semakin mendukung dalam upaya manusia untuk kembali ke asal (vegetarian).

Ditunjukkan oleh hasil penelitian di Inggris dan Skotlandia terhadap 44.500 responden, mereka yang hanya mengonsumsi pangan nabati kemungkinannya lebih rendah 32 % mengalami kematian akibat gangguan jantung, dibandingkan yang mengonsumsi pangan hewani.

Pada awal 2013 juga dilakukan penelitian yang dipublikasikan pada American Journal of Clinical Nutrition, disebutkan bahwa ada perbedaan signifikan pada kaum vegetarian dalam hal tekanan darah, kadar kolesterol, dan berat badan, semuanya lebih rendah dan dipercaya akan berperan besar terhadap peningkatan kualitas kesehatan responden.

Di Negara-negara Barat, penyakit gangguan jantung memang menjadi pembunuh utama yang sangat ditakuti.

Di Inggris, setiap tahunnya 94 ribu orang meninggal akibat masalah jantung. Sedangkan di Indonesia, penyakit kardiovaskular juga menjadi pembunuh nomor satu.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan pada 2007, penyakit-penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab 36,2 % kematian di Indonesia, penyakit tersebut terdiri atas stroke (26,9%) dan penyakit jantung koroner (9,3%).

Penyakit ini disebut kardiovaskular karena meliputi gangguan pemicu penyakit jantung (kardio) dan pembuluh darah (vaskular).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga sejumlah situs kesehatan menghubungkan kardiovaskular dengan penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskular, dan penyakit vaskular perifer.

Penyakit kardiovaskular mengkaitkan semua masalah yang muncul ketika aliran darah dari jantung terhambat timbunan lemak atau pelak yang terdapat di pembuluh darah.

Dalam studi di atas, para ilmuwan dari Oxford University melakukan analisis data dari 15.100 orang vegetarian dan 29.400 orang yang makan daging dan ikan.

Dalam kurun waktu 11 tahun, 169 responden meninggal karena gangguan jantung dan 1.066 responden dirawat di rumah sakit.

Mereka yang menyantap daging dan ikan sebagian besar merupakan responden yang meninggal dan sakit.

Pola makan sangat penting dan sangat menentukan kualitas kesehatan seseorang menjadi pesan utama dari penelitian tersebut.


Tak Harus Menjadi Vegetarian

Para ahli tidak menyarankan secara langsung kepada masyarakat untuk menjadi vegetarian. Yang terpenting adalah pola makan dengan gizi yang seimbang, tak perlu menjadi pemakan tumbuhan total.

Kualitas kesehatan juga tidak serta merta jadi lebih baik dengan memilih menjadi vegetarian. Faktanya, makanan vegetarian juga ada beberapa yang memiliki kadar lemak jenuh dan garam yang tinggi.

Anda pun juga harus berhati-hati bila memutuskan menjadi vegetarian, karena mengatur pola makan agar tidak kehilangan vitamin dan mineral yang berasal dari daging, seperti zat besi, kalsium, vitamin B12 dan B2, tidaklah mudah walaupun memang bisa disubtitusi.

Bahkan, B12 disebut sebagai animal factor karena lebih banyak dijumpai pada daging, produk susu, dan jeroan.

Padahal, B12 bersama asam folat merupakan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh guna membentuk sel-sel darah, memicu pertumbuhan dan kesuburan, melindungi saraf, dan mencegah infeksi.

Namun, kini tempe diketahui kaya akan kandungan B12 yang terbentuk melalui proses fermentasi. Adapun vitamin B2 yang berfungsi dalam optimalisasi pertumbuhan dan pencernaan, banyak ditemukan pada daging, susu, hati, telur, dan ikan.

Untuk memenuhi kebutuhan kalsium agar tercukupi, Anda bisa mensubtitusi susu hewani dengan meminum susu kedelai yang difortifikasi.

Pada intinya, menjadi vegetarian atau tidak, yang terpenting adalah menu makanan harus tetap memenuhi gizi seimbang.

Makanan yang beragam akan lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan kalori, vitamin, mineral, protein, dan lemak agar tercukupi.

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2013/04/10/04240523/Jantung.Sehat.Vegetarian


Related Posts

Vegetarian Memiliki Jantung yang Lebih Sehat
4/ 5
Oleh